Pembenihan Ikan Nila

Budidaya Ikan Nila
Budidaya Nila
pembenihan
Lahan atau kolam untuk pembenihan nila dibagi dalam dua kelompok yaitu kolam pemijahan dan kolam pendederan.  Kolam-kolam sebaiknya dibuat dengan pematang yang kuat , tidak porous ( rembes ), ketinggian pematang aman ( minimal 30 cm dari permukaan air ), sumber pemasukan air yang terjamin kelancarannya, dan luas kolam masing – masing 200 m2.  Di samping itu perlu di perhatikan juga keamanan dari hama pemangsa ikan seperti anjing air, burung hantu, kucing  dan lain-lain, sehingga dianjurkan agar agar lingkungan perkolaman babas dari pohon pohon yang tinggi dan rindang, sementara sinar matahari pun dapat masuk ke dalam kolam.
Induk ikan nila mempunyai bobot rata-rata 300 g/ekor.  perbandingan betina dan jantan untuk pemijahan adalah 3:1 dengan padat tebar 3 ekor /m2.  Pemberian pakan berbentuk pellet sebanyak 2% dari bobot biomassa per hari dan diberikan tiga kali dalam sehari.  Induk ikan ini sebaiknya didatangkan dari instansi resmi yang melakukan seleksi dan pemuliaan calon induk diantaranya Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Sukamandi, sehingga kualitas kemurnian dan keunggulannya terjamin.
Induk nila betina dapat matang telur setiap 45 hari.  Setiap induk betina menghasilkan larva ( benih baru menetas ) pada tahap awal sekitar 300 g sebanyak 250-300 ekor larva.  Jumlah ini akan meningkat sampai mencapai 900 ekor larva sesuai dengan pertambahan bobot induk betina ( 900 g ).  Setelah selesai masa pemijahan dalam satu siklus ( 45 hari ), induk-induk betina diistirahatkan dan dipisahkan dari induk jantan selama 3-4 minggu dan diberi pakan dengan kandungan protein diatas 35 %.
Setelah dua minggu masa pemeliharaan adaptasidi kolambiasanya induk-induk betina mulai ada yang beranak, menghasikan larva yang biasanya masih berada dalam pengasuhan induknya.  Larva -larva tersebut dikumpulkan denga cara diserok memakai serokan yang terbuat dari kain halus dan selanjutnya ditampung dalam happa ukuran 2 x 0,9 x 0,9 m3.  Pengumpulan larva dilakukan beberapa kali dari pagi sampai sore, dan duusahakan larva yang terkumpul satu hari ditampung minimal dalam satu happa.
Jantanisasi Benih
Untuk mendapatkan benih ikan nila tunggal kelamin jantan ( monoseks ) maka dilakukan proses jantanisasi.  Untuk keperluan ini diperlukan minimal 24 buah happa ukuran masing-masing 2 x 2 x 2 m3 yang ditempatkan dalam kolam dengan luas kurang lebih 400 m2 dan kedalam air minimal 1,5 m.  Kedalam setiap hapa dapat diisi larva ikan sebanyak 20.000-30.000 ekor .  Larva diberi pakan berbentuk tepung yang telah dicampur dengan hormon 17 Alpha Methyl Testosteron sampai masa masa pemeliharaan selama 17 hari.
Larva hasil proses jantanisasi selanjutnya dipelihara dalam kolam pendederan berukuran 200 m2.  Kolam sebelumnya harus dikeringkan, lumpurnya dikeduk, diberi kapur sebanyak 50 g/m2, dan diberi pupuk kotoran ayam sebanyak 250 g/m2.  Setelah pengapuran dan pemupukan, kolam diisi secara perlahan-lahan sampai ketinggian air sekitar 70 cm, digenangi selama 3 hari, diberi pupuk urea dan TSP masing -masing sebanyak 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2.  Setelah kolam pendederan terisi air selam 7 hari, benih ikan hasil proses jantanisasi dimasukkan dengan kepadatan 250 ekor/m2.  Pemberian pakan tambahan dapat dilakukan dengan pakan berbentuk tepung yang khusus untuk benih ikan.  Pemupukan ulang dengan urea dan dan TSP dilakukan seminggu sekali dengan takaran masing-masing 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2 kolam dan diberikan selama pemeliharaan ikan.
Setelah masa pemeliharaan 21 hari, ikan denga bobot rata-rata 1,25 g ( ukuran panjang 3-5 cm ) bisa dipanen.  Untuk panen benih ikan nila sebaiknya digunakan jaring eret pada pengankapan awal.  Bila jumlah ikan dalam kolam diperkirakan tinggal sedikit baru dilakukan pengeringan airnya.
Ikan mempunyai daya tahan yang baik selama diangkut apabila perutnya dalam keadaan kosong dan suhu air media relatif dingin.  Karena itu apabila akan panen dan diangkut sebaiknya ikan tidak diberi makan minimal 1 hari.  Pengangkutan menggunakan kantong plastik, dimana seper empat bagian berisi air dan tiga per empat bagian berisi oksigen murni yang diberi es balok ukuran 20 x 20 x 20 cm3 ( es balok berada dalam media air bersama benih ikan ).  Kantong plastik dengan volume 20 L bisa diisi ikan ukuran 5 cm maksimal 1.500 ekor/kantong, dengan lama masa toleransi dalam kantong sekitar 10 jam.
 By. Budidaya Nila
ReadmorePembenihan Ikan Nila

URUTAN PERSIAPAN BUDIDAYA BELUT

Budidaya Belut
Budidaya Belut
A. PERSIAPAN PAKAN BELUT
Dalam budidaya belut pakan mempunyai urutan pertama dalam persiapan, karena untuk mendapatkan pakan belut tak semudah seperti layaknya budidaya ikan mas atau lele karena pakannya dapat dibeli di toko-toko. Untuk itu persiapan pakan belut menjadi kewajiban utama Sebelum persiapan yang lainnya.
  1. 1. Persiapan pakan belut
Sebelum mengawali ternak belut kita harus mempersiapkan pakan belutnya terlebih dahulu, karena kebutuhan pakan dalam budidaya belut cukup besar.
Biasanya kebutuhan pakan belut berbanding lurus dengan hasil panen yang akan dihasilkan.
Perbandingannya adalah 1 kg bibit belut ukuran 100 ekor pakan yang dibutuhkan selama jenjang waktu 4 bulan adalah 6 kg , itu artinya setiap bulan kebutuhan pakan belut adalah 1,5 kg atau setiap hari nya kebutuhan pakan sebanyak 0,05 kg  setiap hari untuk 1kg belut.
Pakan belut bisa didapatkan dengan mencari di tempat sekitar atau dengan cara ternak sendiri.Apabila mencari di tempat sekitar maka carilah yang termudah dan termurah biasanya disetiap daerah akan sangat berbeda.
Tetapi jalan terbaik adalah dengan memilih cara membudidayakan pula pakannya, sehingga diharapkan pasokan pakan akan selalu cukup dan aman.Disini penulis sengaja tidak akan membahas bagaimana cara-cara untuk mebudidayakan pakan seperti cacing, kodok, bekicot ataupun belatung dikarenakan keterbatasan ruang.Pembaca bisa mencari referensi dan informasi yang lengkap dibuku-buku agrobisnis ataupun diinternet.
  1. 2. Macam-macam pakan belut
Dibawah ini adalah nama-nama pakan belut diantaranya adalah, cacing, kodok, yuyu, bekicot, ikan-ikan kecil, belalang, belatung dan lain-lain. Bangkai juga bisa menjadi pakan belut dengan syarat tidak dijadikan pakan utama setiap hari, karena selain menimbulkan bau yang kurang enak dapat menggangu juga perkembangan belut itu sendiri,  Bangkai akan dimakan oleh belut setelah lama tersimpan didalam Lumpur biasanya minimal setelah 1 minggu makanya jangan heran kalo pakan utamanya bangkai maka perkembangan belut akan lamban. Kalaupun bangkai yang menjadi pilihan variasi pakan buat belut gunakan bangkai ayam yang sudah di kubur sebelumnya selama 3 hari, kemudian masukan kedalam Lumpur media belut. usahakan dibersihkan dahulu bulu-bulunya.
Contoh salah satu cara Pemberian pakan
Apabila pakan yang akan diberikan adalah Cacing maka brikan lah pada kolam yang tepat pada gundukan media yang dibuat sebelumnya ini untuk memungkinkan cacing berkembang biak.
Kemudian apabila pemberian pakan dengan keong mas / bekicot bisa dilakukan proses sebagai berikut :
1. Sebelumnya rebus dulu keong mas agar matang, ini berfungsi untuk memudahkan mengeluarkan daging dari cangkangnya.
2.  Kemudian cincang kecil-keci untuk memudahkan dimakan oleh benih belut yang masih kecil.
3. Buat jamu penambah nafsu makan untuk belut, bisa menggunakan parutan temu lawak dan kunyit, bila perlu berikan 3 hari sekali atau seminggu sekali.
4. Campurkan parutan temulawak dan kunyit pada pakan keong mas atau bekicot yang sudah di cincang kecil-kecil

 By. Budidaya Belut
ReadmoreURUTAN PERSIAPAN BUDIDAYA BELUT

PERSIAPAN PEMIJAHAN IKAN GURAME

Budidaya Ikan Gurame
Budidaya Gurame
Kolam pemijahan dapat berupa kolam tanah atau kolam tembok tetapi dasar kolam diusahakan tetap tanah.  Dasar kolam tanah akan merangsang induk gurami untuk  segera memijah.  Syarat kolam pemijahan yaitu : airnya jernih, tenang dan mengalir kecil sehingga suplai oksigen juga terpenuhi, ada pintu pemasukan dan pengeluaran air dan tidak boleh terlalu banyak mengandung lumpur karena airnya cepat keruh, air yang keruh dapat menutupi permukaan telur, akibatnya akan mempengaruhi keberhasilan penetasan telur.


1.     Persiapan Kolam Pemijahan
Persiapan kolam pemijahan bertujuan untuk menciptakan lingkungan kolam dalam kondisi optimal bagi ikan gurami untuk melakukan pemijahan.  Kolam pemijahan harus dilengkapi dengan saluran pemasukan air dan pengeluaran.  Saluran pemasukan air dibutuhkan untuk mensuplai air baru agar air kolam tetap segar dan ketersediaan oksigen terlarut tetap terjaga.  Aliran air yang masuk ke kolam dapat merangsang ikan untuk memijah.
Ikan Gurami seperti ikan air tawar lainnya juga akan terangsang berpijah bila ada suasana baru dalam kolam, seperti bau ampo yang terbentuk akibat pengeringan tanah kolam kemudian kena air baru.  Hal inilah yang menyebabkan pengeringan dan penjemuran pada dasar kolam pemijahan mutlak dilakukan.  Selain kegiatan pengeringan, pemberian pakan daun talas juga dapat merangsang gurami untuk segera kawin.
Tahapan kegiatan yang perlu dilakukan untuk menyiapkan kolam pemijahan ikan gurami adalah sebagai berikut :
a.    Kolam dikeringkan 3-7 hari, tergantung cuaca dan ketebalan lumpur di kolam.  Tujuan pengeringan kolam yaitu merangsang birahi induk untuk segera kawin, membunuh hama dan penyakit  serta membuang gas-gas yang membahayan ikan (misalnya: amoniak (NH3) dan H2S)
b.    Perbaikan pematang, membersihkan kolam dari semua kotoran yang ada dan masuk ke kolam serta membersihkan rumput liar disekitar pematang
c.    Jika dasar kolam banyak mengandung lumpur segera dikurangi atau dibuang
d.    Setelah pengeringan kolam, dilakukan pengapuran dengan dosis 100gr/m2.  Pemberian kapur selain untuk menaikkan pH tanah juga untuk membunuh bibit-bibit penyakit yang terdapat di dasar kolam
e.    Kolam pemijahan diisi dengan air bersih, jernih dan memenuhi persyaratan untuk kehidupan dan telur nantinya sedalam 80 cm
f.     Setelah 3-4 hari dari pengisian air kolam, induk sudah dapat dimasukkan ke kolam pemijahan
Apabila sumber air kurang jernih atau keruh, sebaiknya air diendapkan terlebih dahulu dalam bak pengendapan.  Air kolam yang keruh akan menyebabkan telur terselimuti oleh lumpur sehingga telur-telur membusuk dan tidak menetas.  Disamping itu, air yang keruh kita akan kesulitan untuk mengetahui apakah telah terjadi aktifitas pemijahan dan apakah sarang telah berisi telur atau belum.

2.     Mempersiapkan Sarang
Induk gurami membuat sarang terlebih dahulu sebelum melakukan pemijahan. Gurami meletakkan dan menyimpan telurnya didalam sarang.  Di alam, induk gurami jantan membuat sarang yang terbuat dari rumput-rumput kering yang disusun di pojokan kolam.  Agar proses pemijahan gurame dapat berlangsung lebih cepat, pembudidaya perlu menyediakan tempat kerangka sarang (sosog) dan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat bahan sarang (seperti ijuk, sabut kelapa).  Keberadaan bahan sarang tersebut juga merangsang induk cepat untuk memijah.

a.     Kerangka Sarang (Sosog)
Kerangka sarang dapat berupa sosog, ranting-ranting pohon dan bilah bambu yang cukup ditancapkan di pinggir pematang kolam. Pemakaian dengan bilah bambu lebih praktis, hemat biaya, dan induk gurami lebih fleksibel dalam membuat sarang.  Sedangkan sosog adalah anyaman bambu berbentuk kerucut dengan diameter lingkaran mulut sosog antara 25-30 cm dan dalamnya 30-40 cm.  Pemasangan sosog dilakukan di pematang dengan cara tangkainya ditancapkan ke pematang kolam.  Namun ada juga yang memasang sosog di bagian tengah kolam dengan cara memasang tangkai pada pangkal sosog .  Penempatan sosog di bagian tengah kolam bertujuan untuk mengantisipasi induk yang enggan membuat sarang dipinggir kolam, karena kondisi pinggir kolam yang kurang nyaman dan banyak lalu lalang orang.
Pemasangan sosog disarankan sekitar 15-30 cm di bawah permukaan air kolam. Jarak pemasangan antara sosog yang satu dengan lainnya sekitar 2 – 4 m.  Jumlah sosog yang dipasang di kolam pemijahan disesuaikan dengan jumlah induk betina. Satu ekor induk betina biasanya membutuhkan satu sarang untuk meletakkan telurnya.  Namun, semakin banyak kerangka yang dipasang maka akan semakin baik karena induk gurami akan lebih leluasa memilih tempat yang diperkirakan aman dan nyaman untuk meletakkan telurnya.

b.     Bahan Sarang

Bahan sarang untuk pemijahan gurami dapat berupa ijuk, sabut kelapa dan rumput-rumput kering.  Namun , yang paling banyak digunakan adalah ijuk dan sabut kelapa karena lebih praktis, murah, dan mudah didapat.  Pilihlah ijuk yang lembut untuk menghindari pecah atau rusaknya telur akibat gesekan dengan ijuk.  Sebelum digunakan ijuk dan sabut kelapa dicuci hingga bersih dan dikeringkan terlebih dahulu dengan cara dijemur.
Bahan pembuat sarang ini biasanya ditempatkan dipinggir atau di tengah kolam dengan posisi menggantung supaya induk dapat dengan mudah mengambil ijuk atau sabut kelapa.  Agar bisa menggantung, ijuk dan sabut kelapa dijepit secara longgar dengan bilah bambu yang dipasang dipinggiran kolam.  Namun kelemahannya, banyak ijuk yang jatuh ke dasar kolam atau tertimbun lumpur.
Penempatan bahan sarang yang umum dilakukan pembudidaya yaitu diatas para-para yang terbuat dari bambu.  Para-para bambu ini diberi kaki pada keempat sudutnya sehingga mampu menahan ijuk/sabut kelapa yang ditempatkan di atasnya.  Bahan tersebut diletakkan diatas para-para yang terendam air atau rata dengan air supaya mudah diambil induk jantan.  Oleh induk jantan, ijuk/sabut kelapa diambil dan dipindahkan ke sosog atau bilah bambu yang di tancapkan pinggir pematang kolam.


3.     Penebaran Induk Kekolam Pemijahan
Induk gurami yang telah matang gonad dan siap mijah dapat segera dipindahkan  ke kolam pemijahan.  Ciri-ciri induk ikan gurame yang baik adalah sebagai berikut:
a. Memiliki sifat pertumbuhan yang cepat.
b. Bentuk badan normal (perbandingan panjang dan berat badan ideal).
c. Ukuran kepala relatif kecil
d. Susunan sisik teratur,licin, warna cerah dan mengkilap serta tidakluka.
e. Gerakan normal dan lincah.
f. Bentuk bibir indah seperti pisang, bermulut kecil dan tidak berjanggut.
g. Berumur antara 2-5 tahun.
Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:

a. Betina
- Dahi menonjol.
- Dasar sirip dada terang gelap kehitaman.
- Dagu putih kecoklatan.
- Jika diletakkan pada tempat datar ekor hanya bergerak-gerak.
- Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.
b. Jantan
- Dahi menonjol.
- Dasar sirip dada terang keputihan.
- Dagu kuning.
- Jika diletakkan pada tempat datar ekor akan naik.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
Penangkapan dan pelepasan induk yang telah matang gonad dilakukan secara hati-hati agar induk tidak terluka atau stress.  Penangkapan induk sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika cuaca tidak terlampau panas.  Hal ini untuk menghindari stress pada ikan akibat perbedaan suhu yang terlalu tinggi antara di kolam induk dengan suhu di kolam pemijahan.  Pemindahan induk ke kolam pemijahan dilakukan setelah kolam pemijahan sudah siap dan telah diisi air.
Penangkapan induk gurami yaitu dengan cara melokalisir induk dengan menggiringnya disalah satu  sisi kolam dengan menggunakan jarring yang dibentangkan.  Setelah ruang geraknya dipersempit, induk dapat ditangkap dengan menggunakan tangan dan dilakukan dengan hati-hati.  Penangkapan induk harus dilakukan satu demi satu.  Penangkapan induk tidak disarankan menggunakan seser, karena akan mengakibatkan sisik ikan banyak yang terkelupas.
Cara memegang induk gurami ada caranya yaitu induk dipegang dengan tangan dengan posisi badan terbalik.  Induk dipegang pelan dan hati-hati, mata gurami diusahakan tertutup oleh telapak tangan agar tidak berontak.  Bagi yang belum mahir dapat menggunakan kain halus basah yang diselimutkan pada tubuh ikan secara hati-hati.  Selanjutnya induk diangkat secara pelan-pelan dengan posisi terlentang juga.  Induk yang tertangkap dimasukkan ke dalam drum atau ember besar berisi air yang telah dipersiapkan.
Pemasukkan induk ke kolam pemijahan harus dilakukan secara hati-hati. Masukkan induk bersama dengan wadahnya ke kolam pemijahan dan biarkan gurami keluar dan berenang dengan sendirinya.  Pemindahan induk dapat juga dengan cara mempergunakan kain halus basah, kemudian diangkut dan dilepaskan bersama pembungkusnya.  Dengan cara ini kemungkinan induk jatuh karena meronta dapat dikurangi atau dihindari.  Jika induk sampai terjatuh maka akan dapat menyebabkan stress sehingga induk tidak mau memijah.
 By. Budidaya Gurame
ReadmorePERSIAPAN PEMIJAHAN IKAN GURAME

Pembenihan Lobster Air Tawar

Budidaya Lobster
Budidaya Lobster
Pembenihan merupakan proses untuk mendapatkan benih atau anak lobster yang baru. Pembenihan dilakukan dengan cara mengawinkan induk jantan dengan induk betina yang telah matang alat kelamin. Benih yang dihasilkan nantinya bisa dijual ke pembudidaya lain atau dibesarkan. Keberhasilan pembenihan bisa dilihat dari kualitas dan jumlah anakan yang dihasilkan.Karena itu, perlu kejelian dalam memilih calon induk dan induk untuk menjamin anakan yang baik pula.

1. Pemilihan dan Perawatan Calon Induk

Induk memegang peranan penting dalam proses pembenihan, karena hasil anakan dipengaruhi oleh kualitas induk yang dipakai. Dalam budidaya lobster skala kecil ( rumah tangga ), umumnya peternak memiliki minimum paket induk yang terdiri dari 25 betina dan 15 jantan.

 Pemilihan calon indukº

Seleksi calon induk sudah dapat dimulai 2-3 bulan atau panjang tubuhnya mencapai 5 cm. Namun, calon induk yang akan digunakan minimum harus berusia 6-7 bulan dengan panjang tubuh 12-15 cm. Berikut ini tips untuk memilih calon indukan yang berkualitas.

1) Pilih calon induk yang pertumbuhannya paling cepat, dapat dilihat dari bentuk tubuhnya yang lebih gemuk daripada yang lain.
2) Pilih calon induk yang punya nafsu akan besar.
3) Pilih calon induk yang gerakannya lincah.
4) Pilih calon induk yang badannya berwarna cerah.
5) Perhatikan jenis kelamin. Jangan pilih yang banci atau berkelamin ganda yang ditandai alat kelamin jantan tidak terlalu menonjol dan warna merah capitnya tidak terlalu cerah.
6) Jangan memilih lobster yang berkepala besar dan bertubuh kecil karena itu tandanya kurang makan.

Calon induk diperoleh dengan membeli calon induk dari pembudidaya lain. Calon induk yang dipilih berusia 6-7 bulan dengan panjang tubuh 12-15 cm.

 Perawatan calon indukº

Calon induk yang telah dipersiapkan dipelihara dan dirawat dalam wadah yang terpisah dengan lobster lain. Pemisahan ini dilakukan agar calon induk lebih gampang dikontrol dan diawasi perkembangannya, serat agar merasa lebih nyaman.Selain itu, calon indk jantan dan betina juga dipisah dalam wadah yang berbeda agar tidak terjadi perkawinan yang tidak diharapkan saat calon induk belum matang kelamin. Wadah pemeliharaan berupa akuarium berukuran 1 x 0,5 x 0,4 yang diisi air sedalam 10-20 cm. akuarium ini menampung 8 ekor induk.

Selama perawatan, calon induk diberi makan berupa cacing tanah dan cacing darah.Dosis makanan yang diberikan per hari adalah 3% dari berat total calon induk.Pemberian makanan dilakukan 2 kali sehari saat pagi dan sore hari. Untuk menghasilkan telur yang berkualitas dan meningkatkan daya tetas telur, makanan yang diberikan mengandung protein tinggi sebesar 25-35%

2. Mengawinkan Induk

Calon induk yang dikawinkan berusia 10-12 bulan atau saat panjang tubuhnya mencapai 15-17 cm. Induk jantan dan betina yang akan dikawinkan, disatukan dalam wadah perkawinan berupa kolam atau akuarium yang berukuran 40 x 40 x 30 cm dengan tinggi air 20 cm. jumlah induk yang ditebarkan dalam wadah perkawinan adalah induk jantan 3 ekor dan betina 5 ekor.

Dalam wadah perkawinan tersebut diberi tempat persembunyian berupa pipa paralon yang berdiameter 3 inci dengan panjang sesuai tubuhnya.Karena dalam satu kolam terdapat 8 ekor induk, maka kolam tersebut diisi dengan 8 buah lubang persembunyian.

Perkawinan biasanya dilakukan pada malam hari. Saat perkawinan terjadi, lobster jantan akan mengeluarkan sperma dan meletakkannya di dekat pangkal kaki kedua dari lobster betina. Sperma lobster berwarna putih, agak menggumpal dan larut dalam air. Setelah kawin, lobster betina akan meninggalkan induk jantan dan berdiam diri dalam lubang persembunyian.

Di dalam lubang tersebut, induk betina akan mengeluarkan telur secara perlahan-lahan dari alat kelaminnya yang berada pada pangkal kaki ketiga. Telur tersebut selanjutnya akan melewati sperma dan menempel di seluruh permukaan perut. Jumlah telur yang dihasilkan dari induk betina biasanya sekitar 200 butir.Setelah induk mengeluarkan telur, pindahkan telur secara berhati-hati di dalam kolam penetasan.

3. Proses penetasan telur

Kolam penetasan yang digunakan adalah akuarium atau kolam dengan ukuran 1 x 1 x 1 m dan ketinggian air 0,5 meter. Kolam penetasan dapat menampung benih sebanyak 400 ekor atau benih dari 2 induk betina.Dalam kolam penetasa juga diberi lubang-lubang persembunyian atau tempat untuk benih-benih menetas.Lubang persembunyian dibuat dari pipa paralon berdiameter 3 inci.

Pemindahan induk betina harus dilakukan secara berhati-hati agar telur yang menempel di tubuhnya tidak berjatuhan.Saat sedang mengerami telur, induk betina sangat malas dan berdiam diri di lubang persembunyian. Induk betina mengerami telurnya dengan cara melipat kakinya ke arah dalam. Selama proses pengeraman dan penetasan, suhu dalam wadah harus tetap dijaga agar selalu stabil, karena telur sangat sensitif terhadap perubahan suhu.

Telur yang sedang dierami induk akan berkembang secara perlahan-lahan dan akan menetas dalam waktu sekitar 1 bulan. Pada minggu pertama, telur berbentuk bulat dan masih berwarna kuning. Selanjutnya telur akan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan mulai tampak bagian-bagian tubuhnya seperti mata dan kaki. Setelah satu bulan, semua bagian tubuh sudah terbentuk sempurna atau menetas. Dalam waktu 2-3 hari, seluruh benih akan terlepas dari tubuh induknya.

Setelah benih menetas dan terlepas, induk dipindahkan ke dalam kolam perawatan induk.Perawatan dilakukan selama minimum 2 minggu untuk memberi waktu pada induk melakukan molting sebelum dikawinkan kembali.Untuk menjaga kualitas benih yang dihasilkan, selama hidupnya induk betina hanya bisa dikawinkan 6 kali.

4. Pemeliharaan Benih

Benih yang baru menetas dipelihara dalam kolam penetasan selama 10 hari.Selanjutnya benih dipindahkan ke kolam pembesaran benih untuk dipelihara selama 2 bulan.Selama pemeliharan benih, kualitas dan pasokan oksigen dalam wadah harus selalu diperhatikan dengan baik.Benih tidak boleh terkena langsung panas matahari karena benih sangat sensitif terhadap perubahan suhu.Setelah berumur 8-15 hari, benih sudah mulai berbentuk seperti lobster dewasa yang memiliki cangkang kepala dan cangkang tubuh.

Untuk menjaga kebersihan wadah pemeliharaan 2 minggu sekali harus dikuras dan dibersihkan total untuk mengantisipasi munculnya bibit penyakit. Saat pengurasan dan pembersihan benih dipindahkan ke wadah lain.
 By. Budidaya Lobster
ReadmorePembenihan Lobster Air Tawar

PEMBENIHAN IKAN LELE DUMBO

Budidaya Lele
Budidaya Lele
I. PENDAHULUAN
Salah satu komoditas perikanan yang cukup populer di masyarakat adalah lele dumbo (Clarias gariepinus). Ikan ini berasal dari Benua Afrika dan pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1984. Karena memiliki berbagai kelebihan, menyebabkan, lele dumbo termasuk ikan yang paling mudah diterima masyarakat. Kelebihan tersebut diantaranya adalah pertumbuhannya cepat, memiliki kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang tinggi, rasanya enak dan kandungan gizinya cukup tinggi. Maka tak heran, apabila minat masyarakat untuk membudidayakan lele dumbo sangat besar.
II. Sistematika
Philum Chordata, Kelas Pisces, Anak Kelas Telestei, Bangsa Ostariophysi, Anak Bangsa Siluridae, Suku Claridae, Marga Clarias dan Jenis Clarias gariepinus.
Bentuk tubuh memanjang, agak bulat, kepala gepeng, tidak bersisik, mempunyai 4 pasang kumis, mulut besar, warna kelabu sampai hitam. Lele dumbo banyak ditemukan di rawa-rawa dan sungai di Afrika, terutama di dataran rendah sampai sedikit payau. Ikan ini mempunyai alat pernapasan tambahan yang disebut abrorescent, sehingga mampu hidup dalam air yang oksigennya rendah.
Lele dumbo termasuk ikan karnivora, namun pada usia benih lebih bersifat omnivora. Induk lele dumbo sudah dapat dipijahkan setelah berumur 2 tahun dan dapat memijah sepanjang tahun.
- Tanda induk betina: tubuh lebih pendek, mempu- nyai dua buah lubang kelamin yang bentuknya bulat.
- Tanda induk jantan: tubuh lebih panjang, mempunyai satu buah lubang kelamin yang bentuknya memanjang.
III. PEMBENIHAN
Saat ini lele dumbo sudah dapat dipijahkan secara alami. Namun demikian banyak orang yang lebih suka memijahkan dengan cara buatan ( disuntik ) karena penjadwalan produksi dapat dilakukan lebih tepat.
A. Pematangan Gonad
Pematangan gonad dilakukan di kolam seluas 50 - 200 m2 dengan kepadatan 2 - 4 kg/m2. Setiap hari diberi pakan tambahan berupa pelet sebanyak 3 persen/hari dari berat tubuhnya.
B. Seleksi Induk
- Seleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan induk yang akan dipijahkan.
- Induk betina ditandai dengan perutnya yang buncit dan kadang-kadang apabila dipijit kearah lubang kelamin, keluar telur yang warnanya kuning tua.
- Induk jantan ditandai dengan warna tubuh dan alat kelaminnya agak kemerahan

C. Pemberokan
- Pemberokan dilakukan dalam bak seluas 4 - 6 m2 dan tinggi 1 m, selama 1 - 2 hari.
- Pemberokan bertujuan untuk membuang kotoran dan mengurangi kandungan lemak dalam gonad.
- Setelah diberok, kematangan induk diperiksa kembali.
D. Penyuntikan
- Induk betina disuntik dengan larutan hipofisa ikan mas sebanyak 2 dosis (1kg induk membutuhkan 2 kg ikan mas) dan jantan 1/2 dosis atau ovaprim 0,3 ml/kg.
- Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung.
E. Pemijahan / Pengurutan
- Apabila akan dipijahkan secara alami, induk jantan dan betina yang sudah disuntik disatukan dalam bak yang telah diberi ijuk dan biarkan memijah sendiri.
- Apabila akan diurut, maka pengurutan dilakukan 8 - 10 jam setelah penyuntikan.
- Langkah pertama adalah menyiapkan sperma: ambil kantong sperma dari induk jantan dengan membedah bagian perutnya, gunting kantong sperma dan keluarkan. Cairan sperma ditampung dalam gelas yang sudah diisi NaCl sebanyak 1/2 bagiannya. Aduk hingga rata. Bila terlalu pekat, tambahkan NaCl sampai larutan berwarna putih susu agak encer.
- Ambil induk betina yang akan dikeluarkan telurnya. Pijit bagian perut ke arah lubang kelamin sampai telurnya keluar. Telur ditampung dalam mangkuk plastik yang bersih dan kering. Masukan larutan sperma sedikit demi sedikit dan aduk sampai merata. Tambahkan larutan NaCl agar sperma lebih merata. Agar terjadi pembuahan, tambahkan air bersih dan aduklah agar merata sehingga pembenihan dapat berlangsung dengan baik, untuk mencuci telur dari darah dan kotoran lainnya, tambahkan lagi air bersih kemudian dibuang. Lakukan 2 - 3 kali agar bersih.
- Telur yang sudah bersih dimasukkan kedalam hapa penetasan yang sudah dipasang di bak. Bak dan hapa tersebut berukuran 2 m x 1 m x 0,4 m dan sudah diisi air 30 cm. Cara memasukan, telur diambil dengan bulu ayam, lalu sebarkan ke seluruh permukaan hapa sampai merata. Dalam 2-3 hari telur akan menetas dan larvanya dibiar- kan selama 4-5 hari atau sampai berwarna hitam.
E. Pendederan
~ Persiapan kolam pendederan dilakukan seminggu sebelum penebaran larva, yang meliputi : pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir
~ Pengapuran dilakukan dengan melarutkan kapur tohor kedalam tong, kemudian disebarkan ke seluruh pematang dan dasar kolam. Dosisnya 250 - 500 g/m2.
~ Pemupukan menggunakan kotoran   ayam dengan dosis 500 - 1.000 gr/m2.. Kolam di isi air setinggi 40 cm dan setelah 3 hari, disemprot dengan organophosphat 4 ppm dan dibiarkan selama 4 hari.
~ Benih ditebar pada pagi hari dengan kepadatan 100 - 200 ekor/m2.
~ Pendederan dilakukan selama 21 hari. Pakan tambahan diberikan setiap hari berupa tepung pelet sebanyak 0,75 gr/1000 ekor.
IV. PENYAKIT
Penyakit yang sering menyerang lele dumbo adalah Ichthyopthirius multifiliis atau lebih dikenal dengan white spot (bintik putih). Pencegahan, dapat dilakukan dengan persiapan kolam yang baik, terutama pengeringan dan pengapuran. Pengobatan dilakukan dengan menebarkan garam dapur sebanyak 200 gr/m3 setiap 10 hari selama pemeliharaan atau merendam ikan yang sakit ke dalam larutan Oxytetracyclin 2 mg/l.
 By. Budidaya Lele
ReadmorePEMBENIHAN IKAN LELE DUMBO

NILA MERAH (Oreochromis sp.)

Budidaya Nila
Budidaya Nila
Budidaya ikan nila di air deras memiliki banyak keunggulan dibandingkan budidaya ikan nila di waduk atau di kolam tergenang. Para pembudidaya  menyebutkan, ukurannya bisa lebih besar, daging lebih kenyal dan terutama tidak bau lumpur. Alasan terakhir inilah yang membuat ikan nila dari kolam air deras disukai oleh konsumen banyak, terutama para pengusaha restoran
By. Budidaya Nila
ReadmoreNILA MERAH (Oreochromis sp.)

Merajut Bisnis Belut

Budidaya Belut
Budidaya Belut
Saban tahun, permintaan dari pembeli luar negeri maupun lokal terus naik. Harganya pun terus terdongkrak.
Dalam tiga tahun terakhir, keberadaan belut di Tanah Air mulai banyak diperhatikan. Betapa tidak, makhluk licin berlendir itu sangat diminati konsumen luar negeri. Terutama konsumen oriental seperti Jepang, Hongkong, Korea Selatan, China, dan Taiwan.
Menurut Saut P. Hutagalung, Direktur Pemasaran Luar Negeri, Ditjen P2HP, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), permintaan keluarga belut dunia sekitar 230 ribu ton setahun. Pasar terbesarnya adalah Jepang yang butuh pasokan 130 ribu ton per tahun.
Belut (termasuk sidat) sangat digemari oleh konsumen luar negeri lantaran rasanya yang gurih dan penuh gizi. “Belut itu punya beberapa kelebihan dibandingkan produk lain,” ungkap Saut. Dibandingkan daging sapi, telur, dan rata-rata ikan, lanjut dia, kandungan energi belut lebih tinggi. Misalnya, per 100 gr telur dan daging sapi masing-masing mengandung 162 kilokalori (kkal) serta 210 kkal. Sedangkan belut mencapai 300 kkal lebih per 100 gr.
Kelebihan lainnya tampak dari kandungan proteinnya. Dibandingkan daging sapi hampir sama, yakni 18,5 gr protein per 100 gr daging. “Tapi kalau dibandingkan dengan telur, yang banyak dikonsumsi di mana-mana, belut lebih tinggi 30%,” tandas Saut.
Satu kelebihan lain belut adalah nilai cerna daging yang relatif tinggi dibandingkan daging merah. Oleh sebab itu daging belut mudah dicerna sehingga baik diberikan kepada anak-anak yang pencernaannya belum sempurna dan orang tua fungsi pencernaannya sudah mulai menurun.
By. Budidaya Belut
ReadmoreMerajut Bisnis Belut